Terdapat beberapa argumen yang patut
kita perhatikan. Pertama, menyimak hadits Nabi di atas, jelas
menunjukkan suatu keharusan untuk menempatkan amar makruf dengan tangan
(kekuasaan) menjadi prioritas utama. Sekarang ini reformasi telah digulirkan,
di antara jargonnya adalah pemberantasan KKN. Dalam model kultur masyarakat
Indonesia yang paternalistik, hanya tauladan pucuk pimpinan nasional yang bisa
berpengaruh. Ibaratnya, bila sapu yang digunakan untuk membersihkan KKN itu
bersih, baru KKN bisa dihilangkan, akan tetapi jika sapunya kotor, mana mungkin
bisa membersihkan. Bagi Muhammadiyah, maka tidak ada jalan lain kecuali merebut
kepemimpinan nasional, bila ingin menyelamatkan reformasi. Kedua,
Melihat perkembangan hasil reformasi selama lima tahun terakhir, menunjukkan
hal yang belum menggembirakan. Dalam aspek ekonomi, tidak suatu perbaikan yang
signifikan. Hal ini tentunya erta terkait dengan visi dan komitmen presiden
sebagai panutan rakyat. Dengan demikian misi amak makruf nahi munkar tidaklah
menjadi hilang, malah diberi pemaknaan sesuai konteksnya.
Dakwah Kultural
Vs Politik Praktis ?
Beberapa
kalangan, seperti JIL (Jaringan Islam Liberal) dan JIMM (Jaringan Intelektual
Muda Muhammadiyah) beberapa waktu ini sibuk melakukan kritik terrhadap
keputusan PP Muhammadiyah yang mendukung pencapresan Amien Rais. Di antaranya
adalah, mempertanyakan misi dakwah kultural yang sudah diputuskan dalam sidang
Tanwir di Bali beberapa tahun lalu, mengapa harus diganti dengan orientasi
politik praktis sesaat ? Juga ada yang mempermasalahkan hubungan
Muhammadiyah-PAN, dengan menyatakan bahwa yang memiliki kewenangan mengajukan
capres dan cawapres adalah partai politik, bukan ormas seperti Muhammadiyah.
Mengenai pertentangan atau dikotomi dakwah kultural Vs Politik praktis, dapat
dijelaskan sebagai berikut. Ide dakwah kultural sesungguhnya adalah
suatu model dkwah yang dikembangkan Muhammadiyah melalui aspek budaya, seperti
budaya bersih, budaya disiplin, budaya keadilan, budaya hemat, budaya jujur,
budaya rasional, budaya profesional, dan seterusnya. Dalam konteks pembenahan
Indonesia era reformasi ini, maka tentu saja pemberantasan budaya KKN menjadi
agenda penting bagi bangsa Indonesia, juga Muhammadiyah. Inilah dakwah
kultural, yang dalam aspek politiknya mengandung implikasi ketauladanan,
pergerakan, dan mobililasi yang berujung pada kepemimpinan bangsa. Dalam
konteks ini, maka sesungguhnya tidak ada dikotomi dakwah kultural Vs politik
praktis, namun yang ada adalah strategi dakwah kultural dengan pilihan pada
sosok kepemimpinan yang bakal memberikan tauladan.
Beberapa
Persoalan Penting
Untuk lebih menghayati bagaimana
variabel-variabel penting yang perlu mendapatkan perhatian dan sekaligus
pemikiran kita, setidaknya ada tiga persoalan yang menjadi bidang garap kita
dalam waktu dekat ini.
(1) Membangun Visi Indonesia Baru
Kepentingan politik Muhammadiyah dalam
konteks membangun masa depan Indonesia tidak lain adalah dengan memulai tahapan
yang telah menjadi cirikhasnya, yakni meneruskan reformasi yang masih belum
tuntas. Apa saja itu, dan apa relevansinya dengan gerakan Muhammadiyah ?
Membuka wacana hubungan gerakan Muhammadiyah dan Reformasi tidaklah mudah,
terutama bagi orang yang tidak mengetahui asal usul gerakan ini. Terdapat
beberapa karakteristik yang menunjukkan persamaan antara gerakan Muhammadiyah
dengan reformasi. Pertama adalah sifat pemberontakannya terhadap tradisi dan
kemapanan. Muhammadiyah lahir tahun 1912 dengan maksud memberikan pengajaran Igama
(baca: agama) terutama bagi para pelajar dan di lembaga persekolahan yang waktu
itu merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal yang dimiliki oleh ummat
Islam. Penyelenggarakan pengajian dan pendidikan agama semacam itu adalah di
luar kebiasaan. Demikian juga reformasi 98, menunjukkan pemberontakannya
terhadap kemapanan orde baru yang telah berlangsung 32 tahun. Isyu sentral yang
terkristalisasi dalam gerakan reformasi 98 ini antara lain soal demokratisasi
dan pemberantasan KKN. Isyu demokratisasi antara lain soal suksesi
kepemimpinan, pemilihan presiden secara langsung dan disentralisasi. Dalam
konteks ini maka sebetulnya kepentingan Muhammadiyah dalam melanjutkan
reformasi tidaklah perlu dicurigai, karena memang ada kesamaan karakter.
Apa yang sebenarnya diinginkan
Muhammadiyah dalam melanjutkan proses reformasi di tanah air ?
Apakah benar bahwa Muhammadiyah telah
bergeser dari orientasi dakwah dan pendidikan yang substantif ke arah pragmatis
? Kita berikan beberapa bukti di antaranya : Pertama, Setelah Muhammadiyah
menggulirkan isyu Negara Federasi yang kemudian menjadi otonomi daerah, justru
yang menikmati adalah penguasa-penguasa daerah, sementara muhammadiyah tidak
mendapatkan keuntungan apapun. Pada saat mengegolkan UU Sisdiknas, Muhammadiyah
menjadi pelopor, namun setelah UU itu jadi, banyak kalangan yang
memanfaatkannya dengan pendepatan kepada pemerintah tentang dana 20 % untuk
pendidikan. Demikian juga sekarang dengan pemilihan presiden secara langsung,
maka yang diuntungkan adalah mereka yang memiliki anggota yang secara kuantitas
memenuhi, sementara Muhammadiyah justru pada kualitasnya. Dengan demikian tidak
benar bahwa gerakan politik Muhammadiyah akhir-akhir ini hanya untuk
kepentingan sesaat, tetapi justru untuk kepentingan bangsa jangka panjang.
(2) Visi Pemimpin bangsa menurut
Muhammadiyah
Bila kita lihat hasil-hasil keputusan
resmi Muhammadiyah seperti yang nampak dalam hasil Sidang Pleno diperluas PP
Muhammadiyah tanggal 10-12 Pebruari 2004, pemimpin bangsa yang diharapkan
adalah seorang dengan ciri-ciri :
- Reformis
- Bebas dari KKN
- Mampu menyelenggarakan tata
pemerintahan dengan baik
- Memiliki visi kebangsaan yang
luas
- Tegas dan berwibawa dalam
membawa bangsa ke tengah pergaulan internasional
- Mampu meningkatkan
kesejahteraan rakyat
- Menunjukkan kehidupan bangsa
menuju ke masa depan yang baik
Bila pada Pilihan Presiden tanggal 5
Juli 2004 Muhammadiyah menentukan sikap untuk memunculkan kader terbaiknya
Prof. Dr. H. Amien Rais sebagai calon Presiden, maka ada beberapa catatan yang
perlu kita simak, yakni :
- Bahwa langkah tersebut diambil
tentunya dalam rangka kerja besar Muhammadiyah berupa amar makruf nahi
munkar. Dengan demikian alasan paling tepat untuk memunculkannya adalah
untuk mengatasi krisis multidimensional yang melanda bangsa ini. Seorang
Amien Rais yang telah berhasil mempelopori gerakan reformasi sejak 1997,
sudah sepantasnya diberi kesempatan untuk melanjutkan langkah-langkah
reformasi yang sudah mengalami kemandegan selama empat tahun terakhir.
- Bilamana dalam pemilihan
presiden nanti Amien Rais berhasil menduduki sebagai orang nomor satu
dalam republik ini, Muhammadiyah tidak perlu terlalu berbangga, namun
justru tetap mendukung langkah-langkah yang positif, dan menjadi yang
pertama untuk mengingatkan bila terjadi penyimpangan dalam pemerintahan.
Jangan sampai terulang pengalaman seperti pendukung Gus Dur yang membabi
buta.
- Bila tidak berhasil untuk
menduduki jabatan Presiden, Muhammadiyah tidak perlu berkecil hati. Apa
yang sudah diupayakan hanyalah sebuah usaha dengan niat yang baik.
Muhammadiyah harus tetap konsisten sebagai gerakan amar makruf nahi
munkar, meski tidak bisa dengan tangan (kekuasaan), masih ada jalan yang
lain (dengan lisan atau wacana).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar