Terdapat beberapa argumen yang patut
kita perhatikan. Pertama, menyimak hadits Nabi di atas, jelas
menunjukkan suatu keharusan untuk menempatkan amar makruf dengan tangan
(kekuasaan) menjadi prioritas utama. Sekarang ini reformasi telah digulirkan,
di antara jargonnya adalah pemberantasan KKN. Dalam model kultur masyarakat
Indonesia yang paternalistik, hanya tauladan pucuk pimpinan nasional yang bisa
berpengaruh. Ibaratnya, bila sapu yang digunakan untuk membersihkan KKN itu
bersih, baru KKN bisa dihilangkan, akan tetapi jika sapunya kotor, mana mungkin
bisa membersihkan. Bagi Muhammadiyah, maka tidak ada jalan lain kecuali merebut
kepemimpinan nasional, bila ingin menyelamatkan reformasi. Kedua,
Melihat perkembangan hasil reformasi selama lima tahun terakhir, menunjukkan
hal yang belum menggembirakan. Dalam aspek ekonomi, tidak suatu perbaikan yang
signifikan. Hal ini tentunya erta terkait dengan visi dan komitmen presiden
sebagai panutan rakyat. Dengan demikian misi amak makruf nahi munkar tidaklah
menjadi hilang, malah diberi pemaknaan sesuai konteksnya.
Tampilkan postingan dengan label Muhammdiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammdiyah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Oktober 2016
MUHAMMADIYAH DAN POLITIK (2)
Pada masa Orde Baru, terjadi perubahan
mengerucut. Paradigma Pembangunan yang mengedepankan pembangunan ekonomi
daripada politik, berdampak pada penyederhanaan organisasi sosial politik
(lebih tegasnya Partai Politik). Sayangnya, langkah ini banyak berimplikasi
pada peminggiran peran partai politik dalam proses pembangunan. Sementara di
sisi lain, menguatnya institusi pemerintah yang diperkuat dengan (Partai)
Golkar. Secara kelembagaan, Muhammadiyah tidak memiliki hubungan apapun dengan
partai politik pada masa ini. Namun dampak dari situasi politik ini bagi
Muhammadiyah (dan juga terhadap ummat Islam umumnya) adalah tiadanya ikatan
emosional yang kuat dengan partai politik manapun. Dan inilah yang melahirkan
pemikiran high politik, dalam mana Muhammadiyah lebih menekankan
partisipasinya pada konsep-konsep pembangunan dan wacana intelektual, misalnya
tentang konsep kenegaraan, konsep pembangunan politik, pembangunan ekonomi dan
seterusnya melalui berbagai aktivitas akademik maupun penelitian dan penulisan
baik yang diselenggarakan oleh PTM maupun Persyarikatan. Sementara itu beberapa
kader Muhammadiyah yang memiliki bakat dan kesempatan untuk berpolitik praktis,
dipersilahkan untuk bergabung ke PPP, Golkar, maupun PDI. Situasi inilah yang
kemudian melahirkan komitemen Muhammadiyah sebagai tenda besar kulturalyang
diharapkan tetap menjaga jarak dengan semua partai politik sekaligus melindungi
para politisinya yang ada di mana-mana.
MUHAMMADIYAH DAN POLITIK (1)
Berbicara tentang Muhammadiyah dan
Politik, tidaklah dimaksudkan untuk membawa pemikiran kepada perwujudan
Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi politik, apalagi menjadi partai politik.
Namun, sejauh yang bisa kita amati sepanjang sejarah peran serta Muhammadiyah dalam
dinamika Bangsa Indonesia, adalah wajar apabila kita merenungkan kembali
peran amar makruf nahi munkar yang selama ini menjadi trade
mark Muhammadiyah, bukan hanya dalam dataran sosial kemasyarakatan,
tetapi juga dalam dataran sosial
politik. Akhir-akhir ini banyak komentar yang menyatakan bahwa dengan masuknya
Muhammadiyah dalam diskursus politik praktis, berarti telah meninggalkan
khittahnya sebagai gerakan amar makruf nahi munkar. Betulkah
demikian ? tulisan berikut ini mencoba melihat realitas hubungan Muhammadiyah
dan politik, serta dampak logisnya dalam konteks amar makruf nahi
munkar.
Langganan:
Postingan (Atom)