Berbicara tentang Muhammadiyah dan
Politik, tidaklah dimaksudkan untuk membawa pemikiran kepada perwujudan
Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi politik, apalagi menjadi partai politik.
Namun, sejauh yang bisa kita amati sepanjang sejarah peran serta Muhammadiyah dalam
dinamika Bangsa Indonesia, adalah wajar apabila kita merenungkan kembali
peran amar makruf nahi munkar yang selama ini menjadi trade
mark Muhammadiyah, bukan hanya dalam dataran sosial kemasyarakatan,
tetapi juga dalam dataran sosial
politik. Akhir-akhir ini banyak komentar yang menyatakan bahwa dengan masuknya
Muhammadiyah dalam diskursus politik praktis, berarti telah meninggalkan
khittahnya sebagai gerakan amar makruf nahi munkar. Betulkah
demikian ? tulisan berikut ini mencoba melihat realitas hubungan Muhammadiyah
dan politik, serta dampak logisnya dalam konteks amar makruf nahi
munkar.
Hubungan
Muhammadiyah dan Parpol
Untuk memahami bagaimana sebenarnya
hubungan Muhammadiyah dan Partai Politik, kita tidak bisa hanya sekedar
mengatakan bahwa Muhammmadiyah adalah sebuah ormas sosial keagamaan yang tidak
ada hubungan sama sekali dengan parpol. Hal tersebut merupakan statemen yang
amat sederhana dan terlalu lugu. Untuk memahami bagaimana sebenarnya sikap
Muhammadiyah mengenai hubungan dirinya dengan partai politik dan politik, kita
perlu melakukan telaah historis-empiris sepanjang perjalanan organisasi ini
sejak berdirinya tahun 1912 hingga sekarang. Dalam kurun waktu tersebut,
setidak-tidaknya terdapat empat masa dengan situasi politik yang berbeda, yakni
masa Demokrasi Liberal, masa Demokrasi Terpimpin, Masa Orde Baru, dan Masa
Reformasi.
Pada masa Demokrasi Liberal yang
berlangsung antara tahun 1945 hingga 1959, hubungan Muhammadiyah dengan Partai
Politik serasa amat dekat. Ketika pemerintah mengumumkan berdirinya
partai-partai politik pada 3 Nopember 1945, Muhammadiyah ikut mendirikan
Masyumi melalui Muktamar Islam Indonesia, 7-8 Nopember 1945, di mana
Muhammadiyah menjadi anggota istimewa partai politik ummat Islam pertama
tersebut. Selama waktu tahun 1945 hingga 1959, kita melihat 50 % keanggotaan
Masyumi adalah kader-kader Muhammadiyah. Dan selama waktu itu pula, kader-kader
Muhammadiyah banyak ditempatkan di kabinet Hatta, Sahrir, Wilopo, Sukiman, Amir
Syarifuddin, Burhanuddin Harahap, Ali I, Juanda, hingga Ali II. Tarik ulur
kepentingan Muhammadiyah dalam Masyumi memang sedikit mengalami dinamika,
misalnya dengan persoalan posisi status keanggotaan Muhammadiyah di Masyumi.
Hal ini sempat dibicarakan pada sidang Tanwir Muhammadiyah 1956 di Yogyakarta
yang merekomendasikan peninjauan ulang status keanggotaan Muhammadiyah di
Masyumi. Hal serupa terulang pada Sidang Tanwir Muhammadiyah 1957, dengan
rekomendasi yang lebih jelas, agar Muhammadiyah keluar dari anggota istimewa
Masyumi. Namun melaksanakan keputusan ini tidaklah mudah di lapangan. Pada
sidang Tanwir tahun 1958, persoalan ini mengambang kembali, dan justru Sidang
menyerahkan kepada PP Muhammadiyah. Sekali lagi, Pada Sidang Tanwir tahun 1959
di Jakarta, persoalan ini muncul lagi dan sempat diadakan voting. Hasilnya 13
orang menyatakan Muhammadiyah harus keluar dari keanggotaan Masyumi, 18
menolak, dan 3 orang abstain. Persoalan ini baru tuntas ketika PP Muhammadiyah
menyelenggarakan Pleno tahun 1959, yang memutuskan Muhammadiyah keluar dari keanggotaan
Masyumi.
Pada masa Demokrasi Terpimpin 1959
hingga 1966, tidak banyak peristiwa yang bisa kita telaah. Hal ini terjadi
karena iklim demokrasi yang kurang kondusif. Kepemimpinan nasional terpusat
pada presiden. Jika ada MPRS, DPRS, dan DPAS, hanya merupakan boneka yang
dibuat sedemikian rupa hingga amat tergantung dari presiden. Dari sisi politik,
Muhammadiyah, sebagaimana para politisi muslim idealis tidak banyak diuntungkan
dalam kondisi seperti ini. Pada paruh pertama masa Demokrasi terpimpin ini,
arus besar pandangan masyarakat (dimobilisasi untuk) mendukung kepemimpinan
nasional, dengan munculnya berbagai gelar untuk Soekarno, seperti Pemimpin
Besar Revolusi, yang diikuti oleh faham Soekarnoisme. Hingga kini, sisa-sisa
kultur politik ini masih nampak dalam berbagai atribut partai Politik beserta
jargon-jargonnya. Namun alhamdulillah, Muhammadiyah tidak sampai turut dalam
aksi dukung-mendukung terhadap kepemimpinan nasional waktu itu, yang ternyata
banyak melakukan penyimpangan dan terkoreksi pada masa sesudahnya. Pada paruh
kedua masa Demokrasi Terpimpin, arus balik terjadi, di mana hujatan pada sistem
dan kepemimpinan nasional semakin seru, yang berujung pada lengsernya Bung
Karno tahun 1965 setelah peristiwa G.30/S/PKI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar